Sebuah rencana pembuatan software : “AGAS” (Agricultural Genetic Analysis System)

March 13th, 2011

Positif IT Untuk Agronomi Hortikultura Masa Depan Sekaligus Upaya Meningkatkan Ketahanan Pangan Global.

Sebuah artikel ilmiah hasil riset seorang professor asal amerika belum lama ramai diperbincangkan oleh semua umat di dunia. Satu artikel yang mengangkat sebuah hipotesa mengenai akan terjadinya krisis pangan global diseperempat abad yang akan datang. Dan yang menarik, dalam artikel tersebut mengatakan bahwa Indonesia kelak akan menjadi salah satu dari 30 negara adidaya baru. Indonesia menjadi negara yang ditakuti dan disegani karena memilki ketahanan pangan yang kuat dan tidak terkontaminasi keadaan krisis pangan yang mendunia.
Sejujurnya, artikel ilmiah tersebut menjadi kabar gembira serta menjadi harapan baru masyarakat dalam negeri terhadap kemajuan bidang pertanian di Indonesia yang nyatanya masih terjanggal oleh berbagai masalah. Masalah-masalah yang bersifat fundamental masih sangat mendominasi keterlambatan kinerja pertanian Indonesia. Diantaranya problema apresiasi masyarakat yang relatif rendah mengenai usaha mengembangkan potensi-potensi pertanian, tidak terealisasinya program kerja pemerintah untuk meningkatkan mutu pertanian, juga lain sebagainya.
Terlebih lagi dewasa ini Indonesia dihadapkan realita ketersediaan pangan yang tidak stabil sehingga menyebabkan kelaparan di berbagai daerah yang sebenarnya memiliki potensi-potensi pertanian yang belum dikembangkan. Kasus-kasus kelaparan dan mala gizi yang terjadi di provinsi papua bahkan di jakarta menjadi salah satu gambaran keterpurukan pangan yang sedang terjadi di Indonesia.
Untuk mengatasi masalah pangan Indonesia tersebut maka perlu adanya upaya peningkatan hasil produksi pertanian. Sejauh yang kita ketahui, dalam upaya meningkatkan hasil produksi pertanian adalah dengan menyukseskan program Ekstensifikasi dan Intensifikasi. Dan dari dua program tersebut yang senantiasa sedang menjadi perhatian utama sebagian besar peneliti pertanian adalah program Intensifikasi yang di dalamnya adalah upaya mengembangkan varietas pangan nasional dengan rekayasa genetika.
‘Terciptanya’ varietas-varietas pangan baru dewasa ini merupakan bentuk keberhasilan program Intensifikasi. Dewasa ini, berbagai teknologi-teknologi muttakhir sudah mulai diterapkan untuk memaksimalkan hasil dari proses rekayasa genetika. Seperti halnya teknologi-teknologi dalam meneliti gen yang sudah ada seperti DNA Sequencer. Perkembangan pesat pengetahuan mengenai rekayasa genetika sangat didukung oleh penemuan teknologi-teknologi berbasis komputer/digital. Teknologi-teknologi tersebut dirancang khusus sebagai alat elektronik yang berfungsi sebagai media analisis, visualisasi, sehingga rekayasa genetika tersebut berhasil.
Untuk itu, sebuah ide sederhana terbesit oleh saya pribadi untuk semakin meramaikan perkembangan rekayasa genetika dengan membuat sebuah aplikasi komputer. Namun software ini diharapkan lebih fungsional dari pada teknologi yang sebelumnya. Aplikasi komputer yang saya rencanakan adalah aplikasi yang dapat memvisualisasikan gen tumbuhan, mengatur enzim pengaktif gen tumbuhan, dan pola rekombinasi ideal gen tumbuhan. Adapun pola kerjanya software ini adalah dengan memaksimalkan penyinaran laser, inframerah, atau sinar-x yang langsung dipancarkan ke sel tumbuhan, lalu penyinaran tersebut mentransfer hasil objekannya melalui bluetooth ke laptop/pc sehingga bisa langsung tervisualisasi. Softwere ini diberi nama Agricultural Genetic Analysis System (AGAS).
Namun, ide sederhana pembuatan softwere ini pun masih sangat ‘mentah’ untuk diwujudkan. Karena baru sebatas inspirasi/ide dan belum beranjak sampai ke tahap penelitian, observasi, dan perancangan. Yang menjadi terhambatnya perkembangan ide ini adalah karena minimnya pengetahuan saya terhadap genetika tanaman yang lebih mendalam, pembuatan software, serta mekanisasi softwere AGAS ini yang lebih kompleks.
Kelebihan dari produk AGAS ini bila terealisasi adalah membantu perkembangan ilmu genetika tanaman dan membantu permasalahan ketahanan pangan global. Karena dengan menganalisis, dan merekayasa lebih dalam mengenai gen akan sangat membantu dalam penemuan pangan-pangan baru sehingga diversifvikasi pangan pun akan lebih mudah diwujudkan.

http://muhammadbaidowi.blogspot.com/2010_10_01_archive.html

Potensi Dedak dan Bekatul Beras Sebagai Ingredient Pangan dan Produk Pangan Fungsional

March 13th, 2011

Dedak dan Bekatul Beras Sebagai Ingredient Pangan dan Produk Pangan Fungsional

24. Jun, 2010 Comments Off

Dedak dan Bekatul Dedak dan bekatul adalah produk sampingan dari proses penggilingan beras. Dedak (rice bran) terdiri dari lapisan luar butiran beras (perikarp dan tegmen) serta sejumlah lembaga, sedangkan bekatul terdiri atas lapisan dalam butiran beras yaitu aleuron/kulit ari beras serta sebagian kecil endosperma.

Dalam proses penggilingan padi di Indonesia dedak dihasilkan pada proses penyosohan pertama, sedangkan bekatul pada proses penyosohan kedua. Dedak dan bekatul mengandung nilai gizi yang lebih tinggi daripada endosperma (sehari – hari dikenal sebagai beras). Karbohidrat utama di dalam dedak padi adalah hemiselulosa, selulosa, pati, dan β-glucan. Tiga asam lemak utama di dalam dedak dan bekatul beras adalah palmitat, oleat dan linoleat. Minyak dedak mentah (cruse rice bran oil) mengandung 3-4 persen wax dan sekitar 4 persen lipid tak tersaponifikasi. Antioksidan potensial seperti oryzanol dan vitamin E juga ditemukan dalam dedak beras. Dedak dan bekatul beras juga kaya vitamin B kompleks. Komponen mineralnya antara lain besi, alumunium, kalsium, magnesium, mangan, fosfor dan seng.

Kandungan gizi dan karakteristik fungsional yang dimiliki dedak dan bekatul beras merupakan potensi untuk pemanfaatan keduanya sebagai pangan fungsional dan food ingredient. Permasalahan utama dalam pemanfaatan dedak dan bekatul adalah mudah tengik akibat reaksi yang menjurus kepada ketengikan hidrolitik dan ketengikan oksidatif.

Upaya stabilisasi dedak dan bekatul beras dapat dilakukan melalui inaktivasi enzim lipase dan lipoksigenase, antara lain dengan pengaturan pH, pemanasan kering, pemanasan uap, penggunaan energi microwave, pemakaian uap etanol, hingga pemanfaatan antioksidan.

Oleh : Made Astawan dan Andi Early Febrinda

http://www.majalahpangan.com/2010/06/potensi-dedak-dan-bekatul-beras-sebagai-ingredient-pangan-dan-produk-pangan-fungsional/

Hello world!

March 12th, 2011

Welcome to Blog-nya Unsoed. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!